Pustaka Kita
04 Agustus 2012
Sepak Bola Eropa dan Kita
Dualisme dalam Sepak Bola Indonesia
25 November 2010
Bajigur
Sebelum di Jogja, kata tersebut hanya sebuah minuman dari Jawa Barat. Di Jogja kata tersebut berubah arti, seringkali dijumpai kata tersebut keluar saat orang sedang emosi, mengumpat. Seorang teman menjelaskan bahwa kata tersebut memang umpatan dari kata 'bajingan' untuk memperhalus menjadi 'bajigur'.
Sampai akhirnya saya menemukan bajigur sesungguhnya, minuman bajigur. Tidaklah mudah mencari minuman tersebut di Jogja, saya tahu pun dari seorang teman. Hampir tiap malam ia keluar membeli minuman tersebut, semula saya mengira dia hanya beli minuman di angkringan. Ternyata yang ia beli adalah bajigur.
Warung bajigur tersebut terletak di perempatan Tirtodipuran, seberang supermarket Maga. Meskipun jalan disekitar tersebut ramai, tampilan warung tersebut sangatlah sederhana, temaram dengan penerangan sentir, saat ini telah diganti dengan lampu listrik. Bekas lampu sentir terlihat di tembok di belakang tempat duduk simbah. Bentuk warungnya hampir sama dengan angkringan, memakai gerobak dengan jajanan berupa gorengan, nasi kucing, dan yang pasti ketan.
Simbah mulai berjualan bajigur sejak tahun 1968, buka sore hari hingga dinihari. Dari awal berjualan sampai saat ini tidak pernah berpindah tempat. Hanya bergeser sedikit ke utara dari semula benar-benar di perempatan Tirtodipuran, disebabkan pemilik tanah membangun rumah. Pelanggannya adalah mahasiswa AMI (Akademi Musik Indonesia), waktu itu kampus AMI berada dibelakang Maga saat ini.
"ndaleme pundi mas?", tanya seorang bapak teman bicara.
"Gowok pak", jawabku
"kalih kompleks polisi?"
"nggih ngriku", jawabku lagi
"njenengan polisi?"
"sanes pak, ming ngontrak"
"monggo mas, pareng". ia pamit pergi setelah membayar makanan dan minuman
"monggo", jawabku
Bajigur, gara-gara bertanya simbah, rambut cepak, dan tinggal di kompleks polisi dikira polisi.
Jogja, 23 November 2010
Pesan, Tanda, dan Makna (seperti judul buku)
Ingsun titip tajug lan fakir miskin
Kalimat tersebut sangat familiar di masyarakat Cirebon. Begitu familiarnya oleh pemerintah daerah baik kota maupun kabupaten Cirebon kalimat tersebut dipasang diberbagai sudut jalan. Kalimat tersebut konon berasal dari Sunan Gunung Jati, salah satu wali sanga. Sebagai wasiat Sunan Gunung Jati kepada masyarakat Cirebon.Arti kalimat tersebut kurang lebih “saya titip masjid dan fakir miskin”. Bagaimana kondisi masyarakat Cirebon pada waktu itu? Sehingga beliau berwasiat seperti itu. Apakah wasiat tersebut masih relevan bagi masyarakat Cirebon? Sehingga perlu diingatkan terus.
Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan, Putri, seorang seniman muda dari Cirebon. Tepat saat Merapi meletus 4-5 November lalu ia baru saja menginjakkan kakinya di Jogja. Saya bertemu dengannya disebuah rumah di daerah Baciro, saya dikenalkan dengan teman-temannya yang sedang bergiat membantu pengungsi Merapi. Salah seorang temannya sebut saja Bang Buyung, ia berasal dari Sumatra tapi pernah tinggal dan berbisnis di Cirebon. Ia mempunyai jaringan yang cukup baik, termasuk dengan kalangan bangsawan di salah satu keraton di Cirebon. Tidaklah aneh bila ia juga pernah berkunjung ke Astana Gunung Jati (sebenarnya terdiri dua kompleks yaitu Gunung Sembung dan Gunung Jati), kompleks makam sultan-sultan Cirebon, termasuk makam Sunan Gunung Jati. Begitu pula sang kawan, walaupun sampai saat ini baru satu kali berkunjung ke sana.
Ada kesamaan antara Putri dan Bang Buyung soal Astana Gunung Jati, terlalu banyak pengemis dan sangat menyiksa. Saya mengamini hal tersebut. Adalah hal lumrah dikompleks-kompleks ziarah wali sanga banyak ditemui pengemis. Di Astana Gunung Jati bisa dikatakan luar biasa. Diantara kompleks ziarah wali sanga lainnya, Astana Gunung Jati adalah kompleks yang paling banyak pengemis dan sangat agresif. Sekali kita memberi kepada satu pengemis, maka pengemis lainnya akan berdatangan dan meminta nilai yang sama. Mungkin keagresifannya hanya bisa disamai oleh pengemis-pengemis ditempat ziarah di Madura.
Saya dan Putri meneruskan obrolan di angkringan Tugu, sementara Bang Buyung mempersiapkan bantuan untuk Merapi.
“ang, kenangapa ning cerbon akeh pengemis? Apa maning ning Gunung Jati, apa Sunan Gunung Jati salah wasiat? Wasiate kan ingsun titip tajug lan fakir miskin” (mas, kenapa di Cirebon banyak pengemis? Terlebih di Gunung Jati, apa Sunan Gunung Jati salah memberi wasiat? Wasiatnya kan ingsun titip tajug lan fakir miskin.”), tanya Putri.
Pertanyaan ini sangat menarik, karena wasiat tersebut selalu didengung-dengungkan bahkan menjadi propaganda pemerintah daerah. Untuk wasiat pertama tidak perlu diperdebatkan karena ukurannya jelas. Berbeda dengan pesan kedua fakir miskin yang ukurannya masih bisa diperdebatkan, terlebih dengan melihat perilaku pengemis yang sangat berlebihan. Kami hanya menduga-duga bahwa ada suatu kondisi atau gejala tertentu di masyarakat waktu itu sehingga beliau berwasiat seperti itu dan masyarakat telah salah menerjemahkan pesan beliau, bahwa karena mereka fakir miskin maka mereka layak mengemis dan memaksa orang yang dianggap berlebih untuk memberi. Sekaligus potret kemalasan masyarakat
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan pemda dengan memasang baligo-baligo di pinggir jalan. Setiap saat masyarakat disuguhi kalimat tersebut. Sementara dibawah baligo, di pinggiran jalan, para pengemis berkeliaran. Apa yang ingin disampaikan pemasangan baligo tersebut terutama bagi pemda sendiri? Apakah ingin mengatakan kepada masyarakat silakan bersodaqoh kepada para pengemis-pengemis tersebut?
Wallahu’alam
Semoga bukan sekedar pajangan di pinggir jalan.
Jogja, 22 November 2010
22 Oktober 2010
Naik Delman
Entah sejak kapan pasar malam diadakan. Pastinya perayaan tersebut bisa menghadirkan delman-delman yang telah menghilang di kota kecil kami. Sebelum kehadiran angkutan kota sekitar tahun 1970-an, delman menjadi alat transportasi utama, bukan hanya dari desa ke pasar di pusat kota kecamatan kami, juga untuk menuju ibu kota kabupaten. Saat angkutan kota melayani kota kecamatan kami menuju ibu kota kabupaten delman mulai menyingkir dari jalan utama, hanya melayani arah utara dan arah selatan dari kota kecamatan kami.
Kota kecamatan kami sangat strategis di jalan pos Daendels, berada di sebelah barat ibu kota kabupaten yang hanya berjarak sekitar 8 km. Di sebelah selatan ada kota kecamatan tetangga yang saat ini telah menjadi ibu kota kabupaten menggantikan ibu kota lama. Sebelah utara daerah agraris di kecamatan kami, sawah membentang luas. Di sebelah barat kota-kota kecamatan lainnya yang dihubungkan oleh jalan pos Daendels. Di pusat kota kecamatan terdapat dua pasar, satu pasar utama yang terletak dipersimpangan pertemuan segala arah tadi. Berjarak satu kilometer ke arah timur terdapat pasar khusus yang hanya menjual kue dan makanan kecil lainnya yang dihasilkan dari desa-desa di sekitar pasar kue tersebut.
Di antara kecamatan-kecamatan lain di kabupaten kami, kecamatan kami paling ramai, hanya kalah dari ibu kota kabupaten lama. Menjadi titik pertemuan. Tempat berdirinya pasar utama kecamatan kami merupakan tempat peristirahatan delman dan pedati yang menuju ibu kota kabupaten lama, masyarakat menyebut tempat tersebut pasalaran dan saat ini menjadi nama pasar di kota kecamatan kami. Saat ini menjadi titik kemacetan utama di kabupaten kami. Jalan utama dari barat ke timur diperlebar, begitu pun ke utara, terlebih ke selatan semenjak ibu kota kabupaten pindah di kecamatan tetangga di selatan. Jalan tol dibangun menghubungkan sisi barat kota dan sisi timur kota, kemacetan masih menyergap kota kecamatan kami. Truk-truk besar dan bis-bis antar kota digantikan motor.
Delman-delman semula masih mendapat tempat di sisi barat pasar Pasalaran. Masih melayani penumpang ke arah utara dan selatan. Persaingan sengit terjadi di jalur selatan, angkutan kota yang menghubungkan ibu kota baru semula tidak mengusik keberadaan delman. Seiring tuanya armada angkutan kota, berganti dengan mobil-mobil baru, generasi baru lebih akrab dengan angkutan kota baru. Jumlah delman semakin lama semakin sedikit. Tidak terasa tiba-tiba menghilang.
Nasib delman jalur utara lebih baik. Masyarakat di utara yang agraris banyak menjadi pemilik delman-delman tersebut. Jarak dari desa mereka ke kota kecamatan kurang lebih 5 km. Untuk menempuh jarak tersebut transportasi umum satu-satunya yang tersedia adalah delman. Delman bertahan lebih lama di jalur ini. Sampai pada akhirnya bernasib sama dengan jalur timur dan selatan. Jalur baru angkutan kota dibuka, melayani jalur utara. Beberapa saat delman masih bertahan. Kebakaran pasar Pasalaran turut "membakar" delman-delman yang tersisa. Lenyap!
Kusir-kusir dari utara masih memiliki delman-delman tersebut. Namun, hadir hanya dalam ritual-ritual tahunan yang ada di kecamatan kami, selain di desaku, delman-delman hadir selama perayaan Maulud Nabi Muhammad saw di desa tetangga. Seperti di desaku, desa tetangga mempunyai masjid dan makam kramat. Disitulah pusat keramaian pasar malam maulud. Naik delman untuk merayakan 3 ritual tahunan.
18 Oktober 2010
08 Oktober 2010
Keretaku Datang
Priiiiit.... suara peluit nyaring memekakkan telinga. Tepat sesuai jadwalnya, kereta api berjalan perlahan-lahan meninggalkan stasiun yang sudah tua ini. Stasiun Tugu sudah berumur 122 tahun atau tepatnya berdiri pada tahun 1887. Zaman dimana gula berkuasa penuh di Hindia Belanda terutama di Tanah Jawa.
Pada zamannya, orang boleh mengritik apa saja kecuali mengritik gula. Muncul istilah "Hindia Belanda gabusnya Belanda". Tidak dipungkiri Belanda melalui politik tanam paksanya membangun sistem perkebunan di Indonesia, di Jawa dan di Sumatera. Di Jawa, rakyat diperkenalkan dengan tanaman kopi, tebu, dan lain-lain. Di Sumatera, ditanam perkebunan tembakau. Keuntungan yang diperoleh dari perkebunan sangatlah besar. Uang mengalir ke Negeri Belanda, menyelamatkan sebuah negeri yang sebenarnya terletak di bawah permukaan laut dengan membendung air laut.
Politik tanam paksa berdampak pada menurunnya kesejahteraan petani. Petani di Jawa adalah petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil bercocok tanam. Sistem perdagangan masih belum dikuasai oleh para petani bahkan bisa dikatakan sampai sekarang. Keuntungan besar dari perkebunan tidak ikut menaikkan kesejahteraan petani yang telah berubah status menjadi pekebun. Kelaparan dan wabah penyakit terjadi di beberapa daerah di Jawa, seperti Cirebon dan Purwodadi. Petani termiskinkan di tanahnya sendiri.
Pembangunan perkebunan di Jawa dan Sumatera diikuti pembangunan sarana transportasi massal. Jaringan kereta api mulai dibangun di Kemijen, Semarang tanggal 16 Juni 1864 oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM/PT. Maskapai Kereta Api Hindia Belanda). Menghubungkan Kemijen dengan Tanggung sejauh 26 km. Sejak itu panjang jalur kereta api di Jawa bertambah dengan cepat. Antara tahun 1864-1870 panjang jalur kereta api mencapai 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, dan pada tahun 1900 telah mencapai 3.338 km.
Pembangunan tersebut diutamakan untuk kebutuhan pengangkutan hasil perkebunan dari vorstenlanden dan kota-kota pedalaman lainnya ke kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa. Perkebunan di Jawa di dominasi oleh perkebunan tebu. Ini terlihat di beberapa kota seperti Cirebon. Jalur kereta api di Cirebon menghubungkan dengan kota-kota kecil yang memiliki perkebunan tebu. Ke arah barat (Kadipaten) atas permintaan para tuan kebun, dibangun jalur kereta api Cirebon-Kadipaten. Sedianya jaringan kereta api ini akan menghubungkan Cirebon dengan Bandung, namun permintaan para tuan kebun ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Jadilah jalur kereta api tersebut terhenti di Kadipaten, dimana antara Cirebon-Kadipaten terdapat kurang lebih 3 pabrik gula besar yaitu PG Gempol, PG Jatiwangi, dan PG Kadipaten. Ke arah tenggara dibangun jalur kereta api menghubungkan Cirebon dengan Purwokerto. Sepanjang jalur ini setidaknya sampai Ciledug berdiri pula kurang lebih 4 pabrik gula besar yaitu PG Sindang Laut, PG Karang Suwung, PG Karang Sembung, dan PG Tersana Baru.
Ada perbedaan dasar pembangunan jalur kereta api di berbagai daerah di Indonesia. Bila di Jawa dan Sumatera Timur digunakan untuk kepentingan perkebunan. Di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan digunakan untuk kepentingan pertambangan batubara. Sedangkan di Aceh digunakan untuk kepentingan militer dalam rangka aneksasi Belanda terhadap Aceh. Baru setelah itu sarana kereta api digunakan pula untuk kepentingan perpindahan manusia.
Bagaimana nasib jalur-jalur kereta api dan perkeretapian sekarang? Total jalur kereta api yang telah dibangun di Indonesia adalah 7.583 km. Saat ini lebih dari 2.500 km telah ditutup. Semua jalur kereta api tersebut dibangun pada zaman Hindia Belanda. Artinya berkurangnya jalur kereta api di Indonesia terjadi setelah Hindia Belanda runtuh. Dimulai oleh Jepang yang menduduki Indonesia antara 1942-1945. Jepang sempat membangun jalur kereta api baru sepanjang kurang lebih 300 km, 83 km menghubungkan Bayah-Cikara dan 220 km menghubungkan Muaro (Sumatera Barat)-Pekanbaru (Riau). Pembangunan jalur kereta api Muaro-Pekanbaru mempekerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah romusha. Banyak korban jiwa dalam pembangunan jalur kereta api ini yang dibangun hanya dalam waktu 15 bulan. Pembangunan yang dilakukan oleh Jepang tidak signifikan dengan pembongkaran jalur kereta api. Tidak kurang dari 473 km jalur kereta api dibongkar oleh Jepang, jalur yang dibongkar antara lain Yogyakarta-Pundong. Rel-rel yang telah dibongkar tersebut kemudian dibawa Jepang ke Burma (Myanmar), untuk membangun jalur kereta api dari Myanmar ke Thailand. Peninggalan rel tersebut dapat ditemui diperbatasan Myanmar-Thailand berupa jembatan kereta api yang menyeberangi sungai perbatasan kedua negara.
Di tangan pemerintah Republik Indonesia, jalur kereta api yang ditutup lebih banyak, 9.00 km lebih. Beberapa jalur kereta api yang ditutup oleh pemerintah RI adalah Cirebon-Kadipaten kurang lebih 50 km, Banjar-Pangandaran dimana dijalur ini terdapat terowongan kereta api terpanjang di Indonesia kurang lebih 1 km bernama terowongan Wilhemina, jalur Yogyakarta-Parakan, Yogyakarta-Semarang, Yogyakarta-Palbapang, Solo-Boyolali, Purwokerto-Wonosobo dan masih banyak lagi. Penutupan jalur kereta api tersebut berdasarkan pertimbangan ekonomi, sudah tidak menguntungkan lagi.
Kereta api telah meninggalkan Yogyakarta menuju Stasiun Pasar Senen, stasiun pemberhentian terakhir. Sepanjang perjalanan, kereta api akan menyapa stasiun lainnya. Disinilah menariknya kereta api Indonesia saat ini. Selain menyapa 3 stasiun transit, yaitu Stasiun Wates, Stasiun Purwokerto, dan Stasiun Kejaksan Cirebon, kereta api tanpa diduga bisa berhenti di stasiun-stasiun kecil.
Seperti lazimnya sebuah stasiun, tempat naik dan turunnya penumpang kereta api, dan kereta api adalah alat pengangkut orang dari satu stasiun ke stasiun lainnya, banyak orang yang datang dan pergi dan naik dan turun. Sepanjang perjalanan kereta api seakan telah menjelma bentuk rupa yang lain, menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli alias pasar. Berbagai bentuk rupa barang ditawarkan, semakin rendah kelas sebuah kereta api semakin lengkap barang yang dijajakan. Pedagang, pengamen, pengemis, penjaja koran, tukang sapu, tukang pijat, dan lain-lain dapat ditemukan di kereta api. Sepanjang Yogyakarta-Jakarta dibagi menjadi beberapa bagian area pasar. Pedagang yang naik dari Stasiun Kutoarjo tidak akan berdagang sepanjang perjalanan kereta api, ia akan turun di Stasiun Kroya untuk digantikan oleh pedagang dari Stasiun Kroya yang kemudian terjadi pergantian di Stasiun Purwokerto, Stasiun Bumiayu, Stasiun Prupuk, Stasiun Ciledug, Stasiun Kejaksan dan seterusnya. Stasiun-stasiun kecil (diluar Stasiun Purwokerto dan Stasiun Kejaksan Cirebon) yang disebutkan tidak masuk dalam stasiun transit terutama untuk kereta api bisnis. Menariknya kereta api bisnis sering berhenti di stasiun-stasiun kecil tersebut, bukan untuk menaik-turunkan penumpang tetapi menaik-turunkan pedagang. Seperti terjadi simbiosis mutualisme antara PT KA dengan para pegiat ekonomi tersebut.
Keramaian stasiun-stasiun kecil bukan karena adanya penumpang. Stasiun berubah menjadi tempat transit para pedagang dan pegiat ekonomi lainnya. Kerumunan orang yang dijumpai di stasiun bukanlah kerumunan penumpang, mereka adalah pegiat ekonomi yang sedang menunggu kereta api yang akan datang. Kereta api berkembang menjadi pasar terpanjang di Indonesia.
Yogya, 24 Agustus 2009
07 Oktober 2010
Pulang
tepat satu bulan yang lalu ku menziarahimu
engkau menangis dihadapanku
mencoba mencairkan bongkahan es yang tetap mengeras
dengan satu permohonan: pulang!
aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah dimulai
sama dengan yang diinginkanmu, aku pun ingin melihat ini semua berakhir
dan sekarang aku pulang
ntuk menghaturkan maaf yang tak pernah sampai
dan sekarang aku pulang
ntuk mengantarmu pulang ke baitul barzah
Jogja-Tasik-Cirebon, 17 Agustus 2009
Ziarah
Kehangatan
5 bulan lalu
Pukul 1 nanti malam tepat 5 bulan lalu kita bertemu untuk pertama kalinya. Apakah adik akan kembali ke Yogya lagi? Hanya adik yang tahu.
Sebentar tapi banyak hal yang mendalam telah terjadi. Mas tidak ingin menyalahkan siapa pun diantara kita atas apa yang terjadi selama adik di Yogya. Mas pernah bilang pada adik "lihatlah ke depan, bukan ke belakang". Untuk kesekian kali mas hanya bisa mengatakan 'maaf' bila telah mengecewakan dan menyakiti adik. Awalnya komunikasi kita berjalan dengan baik, seiring waktu komunikasi kita menjadi sangat buruk. Ego kita tidak mau disalahkan, tidak mau mengalah pada akhirnya kita saling sakit dan menyakiti. Adik sakit karena mas dan sebaliknya. Sampai sekarang mas punya keyakinan sakitnya adik di bulan Maret disebabkan karena sikap mas, benar tidaknya hanya adik yang tahu pasti. Mas juga sakit, rasa sayang dan bersalah campur jadi satu. Masuk bulan Mei bertambah parah. Sempat ke dokter dan pengobatan alternatif, dari diagnosa dokter dan pengobatan alternatif mas mengambil kesimpulan sakit mas karena hati yang terluka. Mas pernah cerita pada adik, semua penyakit bermula dari hati, saat ini mas benar-benar mengalaminya.
Memang menyakitkan apa yang telah terjadi diantara kita, bahkan saling menyakiti diri sendiri atas nama kasih sayang. Yang kadang sayang dan benci seperti dua sisi mata uang. Ada hal yang menyebabkan kenapa mas sulit menerima dan akhirnya sakit. Ketika mas menerima kehadiran seorang wanita hanya ada dua jawaban yang mas sediakan untuk wanita tersebut, IYA atau TIDAK. Kedua-duanya punya konsekuensi sendiri-sendiri.
IYA artinya keduanya harus bisa menerima apa adanya masing-masing individu, untuk bisa menerima tidak serta merta jadi, akan selalu terjadi proses untuk saling menerima dan tentu saja mengerti. Konsekuensi dari kata IYA berdampak kedua orang yang menjalaninya karena ada dua ego berbeda pada satu tempat. Bisa jadi yang satu ingin ke selatan dan satunya ingin ke utara. Oleh karenanya ada tiga prinsip yang ingin mas terapkan bila menjalin hubungan khusus dengan wanita, kejujuran, kepercayaan, dan saling pengertian. Apapun yang terjadi setelah seorang wanita mengatakan IYA, mas akan mempertahankan hubungan itu. Dan mas gagal menerapkan bersama adik yang berujung perpisahan kita, itulah yang membuat mas sakit. Mas tidak bisa menerima kepergian adik selain tidak ada alasan dari adik yang bisa mas terima juga pastinya karena adik mengatakan IYA mau menikah dengan mas. Akan banyak pertanyaan mengapa dalam jawaban IYA.
Berbeda dengan kata TIDAK. Konsekuensinya hanya pada orang yang menerima jawaban, bisa menerima jawaban itu atau tidak. Bagi mas sendiri, jawaban TIDAK adalah harga mati yang harus diterima, mas tidak akan menanyakan mengapa wanita tersebut memberi jawaban TIDAK. Tidak ada sakit disitu karena mas tahu si wanita tidak ingin mas masuk lebih dalam kehidupannya. Batas yang telah dibuat tersebut tidak akan mas lewati meski pun bila pada suatu waktu wanita tersebut berubah pikiran dan mengatakan IYA. Mas tidak akan masuk dalam kehidupannya dan tidak akan membuka pintu bila pada akhirnya si wanita ingin masuk.
Sekarang mas sedang berusaha berdamai dengan apa yang telah terjadi. Menerima kenyataan bahwa adik telah pergi terutama hati adik bukan hanya fisik adik saja. Sangatlah sombong bila mas berpikiran adik akan lebih baik bila ada disamping mas, pada kenyataannya tidak ada yang tahu tentang masa depan. Mas tidak tahu apakah selepas adik dari mas dan Yogya keadaannya lebih baik atau tidak, semoga pilihan sikap adik tidak salah dan semoga keadaan adik lebih baik.
Jujur mas masih berharap adik kembali walaupun mas tahu harapan itu akan menerpa angin. Ahhh.... masa lupa dengan ajaran ikhlas yang sering dikatakan pada adik, ya.... mas ingin ikhlas dengan apa yang terjadi.
Tidak terasa tahun ini sudah setengah jalan, 6 bulan dan 5 bulan lalu adik meninggalkan rumah. Bukan hal mudah meninggalkan orang-orang yang kita cintai dengan cara yang tidak semestinya. Hari ini mas baca tulisan Samuel Mulia, seorang kolumnis tetap Kompas Minggu. Kesimpulan tulisan berjudul "Turut Berduka Cita" kurang lebih "sebenarnya kita tidak pernah memiliki sesuatu di dunia ini. Mungkin pada awalnya kita merasa kehilangan, kita harus ingat bahwa segala sesuatu akan kembali kepada pemiliknya, yaitu Tuhan. Artinya manusia bukanlah pemilik, terlihat atau pun tidak terlihat, bahkan termasuk diri kita sendiri bukanlah milik kita, jadi tidaklah layak kita menangisi sesuatu yang tidak kita miliki."
Semoga sekarang kita bisa lebih berbahagia.
6 Juni 2010
Suatu Pagi
Bandung: Gadis Berjilbab dan Sebatang Djie Sam Soe
Siang itu di ruang TV asrama. Seorang teman datang dan duduk di sampingku, sebatang rokok terselip diantara jari-jari tangannya, ia hisap pelan-pelan dan asap dikeluarkan dari mulutnya dengan sangat nikmat. "kamu ngerokok apa?" tanyaku tiba-tiba ketika mencium bau asap rokok yang dia hembuskan. Bukan jawaban yang aku dapatkan tapi sebuah pertanyaan balik "kamu tahu apa soal rokok?" sebuah pertanyaan wajar karena aku sendiri tidak pernah merokok, jadi tahu apalah aku tentang rokok. "tapi bau rokokmu lain?" jawabku. Dia tidak mau mengalah, "Gimana kamu tahu rokok, ngerokok aja lom pernah!". Jawabanku tak kalah sengit "Iya, tapi bau rokokmu itu lain!". "Namanya aja Dji Sam Soe", akhirnya ia menjawab. Sekali lagi aku mengatakan, "tapi kok baunya lain?". Ia tidak menjawab, tidak lama kemudian ia keluar, mungkin untuk mengecek rokok yang dia hisap tersebut. Tidak lama kemudian aku keluar dari ruang TV, sang teman tadi sedang duduk-duduk di bangku, ia dengan jengkel akhirnya mengakui bahwa rokok yang dihisapnya bukan Dji Sam Soe tapi Sam Liok Kioe, jengkel karena merasa ditipu teman yang memberi rokok tersebut.
Ada banyak alasan untuk merokok seperti mencari inspirasi, teman melepas ketegangan, dan ada alasan yang sampai saat ini belum saya mengerti sebagai lambang maskulinitas, kejantanan seorang pria. Aku tidak tahu darimana alasan tersebut datang dan dimana letak kejantanannya. Atau jangan-jangan karena mereka terlalu sering nonton iklan rokok yang menggambarkan maskulinitas pria? Sementara untuk teman wanita yang merokok saya tidak begitu tahu apa alasan mereka untuk merokok.
Siang kemarin di kawasan Jalan Merdeka di depan sebuah pusat perbelanjaan ternama di Bandung, aku duduk di tepi trotoar. Suasananya begitu berbeda dibanding beberapa bulan yang lalu, trotoar bersih dari pedagang kaki lima, di pinggir trotoarpun dipasang pagar. Aku duduk di tepi trotoar menunggu adikku yang meminta ketemu di sebuah restoran cepat saji di pusat perbelanjaan tersebut. Kuperhatikan cewek-cewek berjilbab yang lalu lalang di depanku, siapa tahu itu adalah dia. Begitupun angkot yang berhenti di depanku, siapa tahu dia baru turun dari sana.
Sebuah angkot berhenti persis di depanku, menunggu penumpang, mataku menjelajah isi angkot, mataku terhenti melihat sosok gadis berjilbab, kupandangi dia agak lama. Dia membalas pandanganku, untuk beberapa lama kami saling berpandangan. Aku memandangnya bukan karena kecantikannya atau dia adikku tapi dengan apa yang dia lakukan di dalam angkot tersebut. Ada kegelisahan di matanya. Sebatang Dji Sam Soe ia hisap dalam-dalam, beberapa kali ia lakukan dibawah tatapan mataku. Aku tertegun, dalam otakku "apa tidak salah yang aku lihat?" Aku tidak heran dengan wanita merokok baik yang berjilbab terlebih yang tidak berjilbab, tapi banyak pertanyaan ketika melihat gadis berjilbab itu merokok di tempat umum.
Aku jadi teringat seorang teman wanita yang berjilbab, aku tidak tahu kalau dia perokok. Suatu waktu dikala dia banyak masalah, entah sengaja atau tidak dia datang ke tempatku dengan membawa satu bungkus rokok putih. Padahal dia tahu aku sangat benci sekali benda itu--alasanku sederhana karena benda tersebut membuat kamarku bau asap rokok--secepat kilat dia mengambil bungkusan rokok itu ketika aku mau mengambilnya, dia tahu aku akan membuangnya.
Setelah bertemu dengan adikku, aku mampir ke Sabuga untuk bersua dengan teman-teman disana.
16 Juni 2007
Prameks 8
Aku berjalan dengan cepat. Jalan yang memanjang seakan tak berujung ramai disesaki orang. Dari utara ke selatan dan sebaliknya. Kanan kiri jalan disepanjang trotoarnya dipenuhi pedagang kaki lima. Orang-orang berjalan pelan dan berdesak-desak. Aku berusaha mencari celah diantara ramainya manusia. Lima menit lagi, ya lima menit lagi kereta akan berangkat. Sementara jalan seakan begitu panjangnya.
Aku tak peduli dengan keringat dan peluh yang membasahi tubuh dan pakaianku. Matahari membakar tanpa belas kasihan. Langit tersapu bersih tak ada satu awan pun yang menghalangi matahari. Seakan-akan mereka pun takut dengan sinarnya. Stasiun berdiri dengan angkuh didepanku. Menyisakan kemegahan dan keangkuhan jamannya. Suasana sepi segera menjemputku. Tidak ada kerumunan pembeli tiket atau penunggu kereta yang akan membawa mereka pergi.
Tampak sesosok wajah yang tampak aku kenal berdiri didepan pintu masuk. Matanya bergerak ke segala arah seakan mencari mangsa, seakan mencari mangsa tetapi sang mangsa tak ditemuinya. Sebuah isyarat tangan kulambaikan padanya, ketika dua pasang mata bertemu. Sebuah kota yang sama di sebelah di timur menjadi tujuan kami. Kami telat 10 menit. Ia sengaja datang terlambat karena kereta biasa terlambat. Sebuah alasan sama aku miliki. Kami berbincang sebentar untuk kemudian berpisah diluar stasiun dengan tujuannya masing-masing. Ia menyusuri jalan yang sebelumnya aku lalui untuk sekadar mengisi perutnya. Sementara aku berkeliling kota sebentar untuk menunggu datangnya kereta di sore hari.
Tiket telah kubeli diperon. Tidak lama kemudian kereta datang. Orang-orang berebutan menaiki kereta. Sementara penumpang di dalam kereta belum sempat turun. Aku mengambil tempat di sebelah pintu masuk, tidak lama kemudian duduk seorang pria disampingku yang kemudian asyik dengan bacaannya. Tepat diseberangku seorang nenek dengan seorang gadis duduk didekat pintu.
Alangkah cepatnya dunia berubah. Dia bergerak tanpa kompromi melindas yang berusaha menentangnya. Dunia selalu milik yang baru bukan yang lama. Atau aku yang semakin tua. Apa yang kurasakan saat ini adalah sebuah dunia yang telah berubah, dunia baru dengan warna-warna baru. Segar, cantik, menggairahkan dan dinamis. Dalam keterasingan dunia kurasakan pula semakin rapuhnya dunia ini. Ia berjalan tanpa arah dan tujuan jelas. Itulah anak manusia, sebagai lelaki aku melihat wanita sebagai dunia dan keindahan.
Wanita dengan jilbab kembang-kembang, kaos biru dengan balutan jaket jins dan celana jins ketat. Sebuah gambaran wanita modern relijius tersaji di depanku. Ku pandangi dia seakan aku ingin menguliti tubuhnya yang ramping dan kulit kuning langsat. Ku bedah dari ujung kaki sampai ujung kepala. Alangkah indahnya duniaku. Aku bergulat dengan diriku sendiri. Sebuah pertanyaan muncul, bisakah aku mencintai makhluk terindah di dunia ini?
Kenangan lama bermain-main dibenakku. Dua tahun ini rasa cinta seperti lenyap dari diriku. Aku pernah bilang pada diriku sendiri bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta tidak akan pernah mati. Namun, cinta tidak bisa memiliki apa yang dicintai, cinta hanya memiliki diri sendiri dan sang pecinta. Aku sadari betul hal itu ketika aku mencintai seseorang. Apakah itu sebuah do’a? Aku tak tahu. Aku memiliki cintanya, tapi aku tidak pernah memiliki ragawinya. Ledakan besar menggoncang jiwaku. Ledakan yang bisa aku tahan, tetapi luka tetap tergores. Luka penyesalan.
Kulihat wajah cantiknya mulai mengantuk, ia berusaha mencari posisi untuk memejamkan matanya ditempat sempit. Sebentar-bentar dia memejamkan mata kemudian membuka kembali. Kemudian menyelonjorkan tubuhnya sehingga lekukan tubuh menjadi santapan birahiku. Di saat lain ia mengangkat salah satu kakinya ke atas sebagai pangkuan kepalanya. Maaf kan mata yang kurang ajar ini. Aku bersimpati dengan kantukmu, tapi aku tak kuasa melihat dunia yang telah berubah ini. Aku tersadar bahwa aku masih bisa menikmati kehadiran keindahan. Ya, karena aku begitu menikmati dirimu yang indah. Hanya hatiku masih bertanya seperti apakah dunia yang kucari? Apakah seperti dirimu?
Setiap hari aku melihat wanita sepertimu, indah, menggairahkan. Kekosongan jiwaku turut mengiri pengembaraan batin yang telah terdiam sekian lama. Aku menikmati kehadiran keindahan-keindahan itu setiap hari. Dalam sebuah percakapan Arul bilang “dibanding teman-teman yang lain, kamu masih terbilang normal. Bisa menilai wanita, bercerita pengalaman tentang wanita. Kamu sedang tidak mengalami trauma, tetapi kebekuan”. Sebuah harapan masih aku miliki, tetapi kapan keindahan dengan sepenuh jiwanya bisa menyapaku, kiranya tinggal menunggu waktu.
Kereta berhenti di stasiun pertama, para penumpang berebutan turun, sementara yang diluar berebutan masuk. Aku menunggu reaksinya dimanakah ia akan turun. Ia bangkit dari tempat duduknya, dan segera aku pun mengikutinya. Kumpulan penumpang yang berebut turun menenggelamkannya. Aku segera menerobos kumpulan penumpang untuk mengejarnya. Ditengah keramaian sosoknya sulit kukenali. Seorang gadis dari arah stasiun menyeberang jalan dengan tas punggung dan sebuah bungkusan. Sebuah bus telah menunggu untuk mengantarnya ke tempat tujuan lainnya. Aku hanya bisa menghela nafas dan berjalan ke tujuanku.
Glagahsari, 14 Oktober 2003
Realitas Rasa
“Apakah cinta mempunyai mata? Sehingga ia bisa memilih siapa yang dicintainya” SMS pendek itu kukirim kepada seorang teman “seorang pejuang cinta”. “Cinta punya mata, itulah kenapa orang butuh kaca. Kl ga terima ya pecahin aja” balasnya. Saya tidak bermaksud membahas jawaban teman tersebut yang sebenarnya tidak saya mengerti, saya ingin membahas pertanyaan saya sendiri.
Tepatnya pertanyaan tersebut bukan punya saya. HU Pikiran Rakyat edisi minggu biasanya terdapat rubrik keluarga, berisi cerita-cerita seputar permasalahan keluarga. Kebetulan Desember 2007 saya berada di Bandung, di hari minggu dimana pada malam minggunya saya melewatkan sebuah pertandingan besar Liga Inggris antara Manchester United vs Liverpool. Seorang wanita, tepatnya janda, bercerita tentang kehidupannya. Ia adalah seorang wanita yang sangat anti poligami hingga suatu saat ia bekerja sama dengan seorang teman pria dalam sebuah bisnis. Pria tersebut telah berkeluarga. Sampai pada akhirnya ia merasa membutuhkan kehadiran pria teman bisnisnya tersebut.
Apa lacur pria tersebut telah mempunyai keluarga. Ia teringat masa-masa kejayaannya. Sebagai istri seorang direktur ia mempunyai posisi yang terhormat, bersama istri-istri di perusahaan yang dipimpin suaminya mengawasi perilaku suami-suami mereka. Jangan sampai ada di antara suami-suami mereka yang melakukan selingkuh dan berpoligami. Hingga suatu saat ada salah satu anak buah suaminya berselingkuh. Mereka kompak mendatangi wanita selingkuhan dan memperingatkannya untuk tidak mendekati suami temannya. Bagi mereka wanita-wanita seperti itu adalah pengganggu kehidupan rumah tangga orang.
Dunia berbalik ketika sang suami mendahuluinya. Kehidupan ekonomi menurun. Hingga ia bertemu dengan seorang teman dan mau membantu bisnisnya. Keberadaan pria tersebut semakin lama semakin dibutuhkannya. Kehadirannya sangat ia tunggu-tunggu, tidak hanya sebagai teman bisnis, tapi telah tumbuh benih-benih cinta. Ia menyadari status pria tersebut tidak memungkinkannya untuk menjalin sebuah hubungan yang serius. Satu kesadarannya bahwa tidak selamanya wanita yang dekat dengan suami orang berniat merusak rumah tangga. Ada kuasa yang tidak bisa dielakkannya bahwa cinta itu buta sehingga ia tidak bisa memilih siapa yang ingin dicintainya. Ia terjebak antara realitasnya dan realitas pria itu.
Sabtu, 16 Agustus 2008
Arsip FS
ke Bioskop
Sejak hadir untuk kedua kalinya di Yogyakarta, ini kali kedua menonton di Studio 21. Pertama kali ketika diputar Da Vinci Code, diangkat dari novel kontroversial karya Dan Brown. Bagi yang sudah membaca novelnya tentu akan kecewa melihat film Da Vinci Code, tidak mampu untuk menerjemahkan sebuah novel ke layar lebar. Namun, rasa penasaran membuat antrian yang sangat panjang yang terjadi selama beberapa hari di Studio 21. Mendapatkan tiket hari itu bukan berarti untuk menonton di hari yang sama.
Tidak terlihat ada antrian panjang, tetapi tempat duduk yang tersisa tinggal di depan, padahal midnight, kejadian yang mirip waktu pertama kali nonton di Studio 21. Studio 21 merupakan salah satu tempat favorit nonton sewaktu masih di Hero Jalan Solo, tetapi setelah terjadi kebakaran tradisi nonton berputar dari CD ke CD yang pada waktu itu sedang marak CD bajakan sehingga kualitas gambarnya sangatlah jauh.
Pada masanya ada banyak gedung bioskop di Yogyakarta. Banyak pilihan tempat nonton, dari kelas kambing sampai kelas eksekutif, dari kelas kambing sampai kelas atas. Dari harga Rp 500 sampai Rp 9.000. Hampir disetiap tempat strategis ada gedung bioskop dan uniknya gedung bioskop di Yogyakarta umumnya mandiri, maksudnya tidak menyatu dengan pusat perbelanjaan.
Untuk kelas bawah bisa disebutkan Senopati, Yogya Teater–keduanya di Shoping sekarang menjadi Taman Pintar, Sobo Harsono–di alun-alun utara sekarang menjadi Yogya Galeri, konon pernah menjadi tempat nonton favorit mantan Presiden Gus Dur sewaktu masih kos di Kauman–Indra depan Pasar Beringharjo, Permata di Jalan Sultan Agung, dan ada satu lagi di Jalan Solo-lupa namanya-sekarang berubah menjadi TJ’s Cafe yang merupakan bioskop termurah di Yogyakarta dengan tiket Rp 500 (berbanding terbalik dengan bioskop di seberang jalannya).
Untuk kelas menengah ada Ratih di Jalan Mangkubumi–sekarang menjadi Toko Kertas Champion, Rahayu masih di Jalan Mangkubumi–kalau tidak salah sekarang menjadi kantor sebuah bank, Regent di Jalan Solo–sebelah Hero lama yang telah terbakar, dan Mataram yang sampai sekarang masih eksis bahkan untuk beberapa lama menjadi bioskop kelas atas.
Untuk kelas atas tentu saja Studio 21 terletak di Jalan Solo Lantai 2 Hero Swalayan yang kini telah menjadi puing-puing.
Tutupnya berbagai gedung bioskop tersebut banyak sebabnya, ada yang terbakar (Hero kabarnya sengaja dibakar) atau kalah bersaing. Ada dua bioskop yang terbakar yaitu Studio 21 dan Regent, kedua bioskop ini terletak bersebelahan. Hero terbakar pada tahun 1999, tidak lama kemudian disusul Regent. Banyak cerita horor pasca kebakaran kedua gedung bioskop tersebut, dikabarkan ada hantu-hantu yang bergentayangan di sekitar puing-puing kebakaran sehingga untuk beberapa lama daerah sekitarnya menjadi sepi.
Sebab kedua tutupnya bioskop-bioskop di Yogya terutama kelas menengah adalah kalah bersaing dengan CD. Akhir abad kemarin dan awal abad ini adalah masa booming CD, saat itu merupakan mainan baru mahasiswa Yogya didukung hebohnya Bandung Lautan Asmara. Dengan mengeluarkan uang tidak lebih dari Rp5.000 sudah didapatkan paling tidak 3 CD film terbaru, akan lebih ringan lagi bila urunan. Tidak perlu ke bioskop, film terbaru, bisa santai, dan nonton ramai-ramai. Masa-masa itu jangan berharap mendapatkan CD terbaru diakhir pekan, karena sudah dibooking beberapa hari sebelumnya, jadilah acara akhir pekan di kamar kos, tidak masalah ‘bertapa’ selama dua hari (sabtu dan minggu) untuk menghabiskan film-film yang di sewa.
Jangan dibayangkan bagaimana kualitas CD film tersebut, tentu sangat jauh karena semuanya bajakan, sangat jarang CD original. Tidak ada yang mempermasalahkan, toh pada kenyataannya lebih banyak kebanyakan meminjam film dalam kategori XXX. Orang rela mengantri hanya untuk mendapatkan XXX. Apa karena kualitas gambarnya lebih bagus dari film bajakan lainnya?
Bioskop yang tutup akibat kalah bersaing antara lain Ratih, Rahayu, dan Widya.
Masih ada sebab lainnya yaitu penggusuran atau dialihfungsikan, seperti Senopati dan Yogya Theater yang sekarang dijadikan Taman Pintar, kemudian Sobo Harsono yang kemudian menjadi Yogya Galeri.
Dari sekian banyak gedung bioskop tersebut, hanya tiga gedung bioskop yang belum saya sambangi yaitu Senopati, Sobo Harsono, dan bioskop yang sekarang menjadi TJ’s Cafe.
Kamis, 5 Juli 2007
Arsip FS